Keterserapan Seni dan Budaya Cukup Tinggi, AKNSBY Tunjukkan Relevansinya

avatar
Ditulis oleh
Administrator
0 komentar
Keterserapan Seni dan Budaya Cukup Tinggi, AKNSBY Tunjukkan Relevansinya
blog
Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek RI bersama Kepala LLDIKTI V, jajaran AKNSBY, AKN Putra Sang Fajar Blitar dan AKN Pacitan di sela acara FGD di AKNSBY.

YOGYAKARTA - Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek RI Prof. Dr. Mukhammad Najib, STP, MM. menyampaikan optimismenya bahwa kebutuhan sekaligus keterserapan lulusan Seni dan Budaya cukup tinggi. Hal tersebut terungkap saat Forum Group Discussion (FGD) di AKN Seni dan Budaya Yogyakarta di kampus setempat Jalan Parangtritis, Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Selasa (10/2/2026). Pada FGD ini jajaran AKNSBY hadir lengkap yaitu Direktur AKNSBY Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum., Wadir Drs. Kartiman, M.Sn., Kasubag TU Bayu Aprianto, M.Pd., Kepala Pusat Penelitian Penjaminan Mutu dan Pengabdian Masyarakat, Ari Dwi Rahmawati, M.Pd. para Kaprodi, Dosen dan tenaga pendidik. Turut hadir pula Direktur beserta para jajaran dari AKN Putra Sang Fajar Blitar dan AKN Pacitan.

Mukhammad Najib menyoroti di AKNSBY menunjukkan relevansi serta kebutuhan itu. Dan memang kalau seni dan budaya sekarang ini diakuinya memiliki kebutuhan cukup tinggi “Kalau di AKN Seni dan Budaya Yogyakarta sudah dijelaskan oleh Prof Kuswarsantyo, memang kebutuhan di sini untuk memenuhi desa budaya dan untuk memenuhi pendidikan seni yang berbeda di sekolah-sekolah. Nah itu memang masih cukup tinggi sehingga nanti kita bisa lihat lebih jauh lagi mengenai keterserapan lulusan dari AKN Seni dan Budaya Yogyakarta untuk menunjukkan relevansi dan kebutuhannya itu,” kata Mukhammad Najib.

Terkait seni dan budaya yang sekarang ini mempunyai kebutuhan cukup tinggi, Ia mencontohkan sejumlah peristiwa salahsatunya di Kementerian Luar Negeri. “Jadi saya ingat betul di Kementerian Luar Negeri setiap tahun untuk para lokal staff di KBRI di seluruh dunia itu untuk promosi seni dan budaya. Jadi staff yang diperlukan untuk mempromosikan seni dan budaya ke sekolah-sekolah di negara tersebut seringkali tidak gampang. Bukan keterampilan teknis seni dan budayanya tapi mengomunikasikan ke masyarakatnya itu yang tidak bisa. Kalau seperti karawitan bisa, gamelan bisa, menari bisa. Jadi dalam hal ini memang bahasa jadi penting,” papar Mukhammad Najib.

Secara konkrit Ia mencontohkan, di Australia ada Suara Indonesia yang merupakan penari dari Aceh. Pekerjaan mereka keliling Australia dengan mendatangi sekolah-sekolah dan membuat pertunjukkan dan workshop budaya. “Mereka hidup dari kegiatan itu saja sudah luar biasa. Nah kebutuhan-kebutuhan yang di KBRI itu juga tinggi setiap waktunya,” ungkapnya. Sehingga dengan contoh tersebut, Direktur Kelembagaan menilai untuk memenuhi kebutuhan itu, Akademi Komunitas tidak perlu transformasi dan juga tidak perlu dipaksa untuk menjadi politeknik. “Cukup dengan kelembagaan model institusi yang ada, itu tidak ada masalah,” pungkasnya. (Humas-AKNSenBud)


0 Komentar

Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!

BERITA TERKAIT

Kirim pertanyaan, saran, atau masukan anda kepada kami