Di AKNSBY, Dirlem Kemdiktisaintek Ceritakan di LN Lulusan Vokasi Bergaji Lebih Besar

avatar
Ditulis oleh
Administrator
0 komentar
Di AKNSBY, Dirlem Kemdiktisaintek Ceritakan di LN Lulusan Vokasi Bergaji Lebih Besar
blog
Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek RI Prof. Dr. Mukhammad Najib, STP, MM. dan Direktur AKNSBY Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum. meninjau aktivitas mahasiswa dari 3 Prodi di AKNSBY.

YOGYAKARTA - Sudah adanya PTLN atau Perguruan Tinggi Luar Negeri yang beroperasi di Indonesia, telah memiliki kekuatan dan keunggulan sendiri. Keberadaan Perguruan Tinggi Asing itu sekaligus menjadikan tantangan-tantangan sendiri yang belum kita antisipasi. Hal tersebut menjadi poin yang disampaikan Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek RI Prof. Dr. Mukhammad Najib, STP, MM. saat Forum Group Discussion (FGD) di AKN Seni dan Budaya Yogyakarta di kampus setempat Jalan Parangtritis, Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Selasa (10/2/2026).

Najib mengungkapkan, di Indonesia perguruan tinggi ada banyak sekali. Namun setiap tahun mahasiswa kita yang kuliah di luar negeri pun banyak. Sehingga uang yang kita belanjakan untuk luar negeri itu juga banyak sekali. Padahal, Najib meyakini ilmu yang didapat di laur negeri belum tentu lebih baik dengan yang tersedia di Indonesia. "Bisa jadi kita memiliki lebih banyak pengetahuan dan lebih banyak ilmuwan. Cuma rasa bangga dengan perguruan tinggi kita, ini kita perlu bangun. Dengan basis bahwa memang kita memiliki keunggulan-keunggulan," kata Najib. Ia membeberkan perguruan tinggi kita memiliki keunggulan-keunggulan yang bisa jadi tidak diberikan perguruan tinggi luar negeri. Dan ini yang ia sebut sebagai tantangan bersama.

Kita mengakui setiap negara ini punya karakteristik beda-beda. Najib mencontohkan, di Australia pendidikan vokasi tidak masuk dalam rezim higher education dan keberadaannya terpisah. Higher education itu mulai dari lecturer sampai PhD. Kemudian ada pendidikan vokasi. Di Indonesia, vokasi dengan higher education itu menyatu yaitu pendidikan vokasi juga menjadi bagian dari higher education. Begitupula sebaliknya, higher education menjadi pendidikan vokasi. Dan itu memang sudah berkembang.

Di Australia pendidikan vokasi hanya maksimal 2 tahun dan
memiliki banyak sertifikat mulai 5 bulan, 1 tahun, 1,5 tahun dan 
maksimum 2 tahun. Vokasi tersebut, menurut Najib lebih diminati dibanding mereka yang berkuliah di bachelor. "Jadi tidak semua anak-anak itu mau kuliah di perguruan tinggi. Karena apa? Karena mereka masuk ke pendidikan vokasi waktunya singkat,t erus kemudian lebih cepat dapat kerja. Dan ketika mereka kerja, penghasilannya bisa lebih tinggi dibandingkan bachelor," ungkapnya. Najib menyebut pendidikan vokasi jika bekerja gaji UMRnya perjam mencapai 40 dolar, sementara yang mengambil bachelor misalkan saja bachelor akuntansi yang bekerjanya di bank 1 jam 25 dolar.

Dari contoh tersebut sekaligus untuk menjawab tantangan ini, Najib menyampaikan perlu adanya format terkait pendidikan tinggi kita ke depan.  "Kita perlu membuat format ke depan mengenai pendidikan tinggi kita sendiri. Seperti apa yang bisa komplit juga dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi luar negeri baik yang ada di Indonesia maupun perguruan tinggi luar negeri yang di luar negeri," kata Najib. (Humas-AKNSenBud)


0 Komentar

Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!

BERITA TERKAIT

Kirim pertanyaan, saran, atau masukan anda kepada kami