JAKARTA - Janji-janji perguruan tinggi untuk melakukan program ataupun kegiatan selama setahun da...
JAKARTA - Inovasi teknologi berbasis kearifan lokal dari Yogyakarta berhasil mencuri perhatian dalam perhelatan bergengsi "Repertoar Saintek 2025: Jejak Langkah Sains dan Teknologi" yang digelar di Graha Auditorium Kemdiktisaintek, Jakarta, Sabtu (20/12/2025). Tim Penelitian Berdikari 2025 (LPDP) yang mengusung riset berjudul "Penelitian Teknologi Industri Penyamakan Kulit Perkamen untuk UMKM Wayang Kulit di Bantul" hadir sebagai salah satu undangan kehormatan dalam forum reflektif yang mempertemukan sains modern dengan tradisi nusantara.
Inovasi Seni yang Menarik Perhatian Menteri
Tim yang dipimpin oleh Ima Novilasari, M.Sn., dan mewakili anggota Tim Ari Dwi Rahmawati, M.Pd. (yang juga hadir mewakili Pimpinan P3MPM AKN Seni dan Budaya Yogyakarta), turut memamerkan produk hasil riset mereka dalam Pameran Poster 100 Produk Berdikari.
Menariknya, stand pameran tim ini sempat dikunjungi langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto. Pak Menteri memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya tim dalam mengintegrasikan teknologi industri penyamakan ke dalam ekosistem kriya tradisional.
"Kami merasa terhormat karena hasil penelitian kami sempat dikunjungi oleh Pak Menteri dan beliau memberikan apresiasi. Banyak pengunjung yang baru menyadari bahwa wayang kulit berkualitas tinggi dibuat dari bahan kulit asli seperti kambing, sapi dan kerbau melalui proses saintifik yang presisi," ungkap Ima Novilasari.
Menghidupkan Kembali Kejayaan "Saka Guru" Yogyakarta
Bagi Ima dan tim, kesempatan ini bukan sekadar pameran, melainkan ajang pembuktian bahwa kampus vokasi dengan spesialisasi seni memiliki daya saing yang kuat di kancah nasional. Melalui teknologi penyamakan kulit perkamen ini, tim memiliki visi besar untuk menghidupkan kembali memori kolektif industri kulit Yogyakarta.
"Mitra penelitian kami sangat berharap riset ini mampu menghidupkan kembali 'Saka Guru' Yogyakarta tahun 1980-an, yang dulu sangat melegenda sebagai pusat penghasil kulit samak perkamen terbesar di Indonesia," tambah Ima.
Kolaborasi Tanpa Batas di Kampus Vokasi
Kehadiran Tim Berdikari di acara yang juga menghadirkan narasumber internasional seperti Prof. Anil K. Gupta dari India ini, menjadi momentum penting untuk menjaring jejaring (networking) baru.
Sebagai pimpinan P3MPM AKN Seni dan Budaya Yogyakarta, Ari Dwi Rahmawati menegaskan bahwa partisipasi ini membuktikan bahwa ukuran institusi bukanlah penghalang untuk berinovasi.
"Meskipun kami merupakan salah satu kampus terkecil, kami diberikan peluang besar untuk mengembangkan karier dan berinovasi melestarikan sains melalui seni. Kami mendapatkan banyak inspirasi serta link baru, dan kami sangat terbuka untuk berkolaborasi lebih luas dengan kampus-kampus senior lainnya," jelas Ari.
Melalui riset yang didanai oleh LPDP ini, diharapkan dampak nyata segera dirasakan oleh masyarakat Bantul, terutama dalam menjaga keberlangsungan UMKM wayang kulit agar tetap relevan dan memiliki standar mutu industri global tanpa meninggalkan akar budayanya. (Humas-AKNSenBud)
0 Komentar